Rabu, 11 September 2013

contoh makalah bahasa baku dan tidak baku new



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bahasa Indonesia merupakan bahasa ibu dari bangsa Indonesia yang sudah dipakai oleh masyarakat Indonesia sejak dahulu jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, namun tidak semua orang menggunakan tata cara atau aturan-aturan yang benar, salah satunya pada penggunaan bahasa Indonesia itu sendiri yang tidak sesuai dengan Ejaan maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia oleh karena itu pengetahuan tentang bahasa baku cukup penting untuk mempelajari bahasa Indonesia secara menyeluruh yang akhirnya bisa diterapkan dan dapat digunakan dengan baik dan benar sehingga identitas kita sebagai bangsa Indonesia tidak akan hilang.
Bahasa Indonesia perlu dipelajari oleh semua lapisan masyrakat. Tidak hanya pelajar dan mahasiswa saja, tetapi semua warga Indonesia wajib mempelajari bahasa Indonesia. Dalam bahasan bahasa Indonesia itu ada yang disebut bahasa baku. Dimana bahasa baku merupakan standar penggunaan bahasa yang dipakai dalam bahasa Indonesia. Dan disini yang akan dibahas adalah  penggunaan bahasa baku serta permasalahan yang mengakibatkan ketidakbakuan bahasa.

B.     Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut:
  1. Pengertian Bahasa Baku
  2. Ciri-Ciri Bahasa Baku.
  3. Sebab-Sebab Terjadinya Bahasa Tidak Baku.
  4. Jenis Ketidakbakuan Bahasa
C.    Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan Bahasa Baku dan Sebab-sebab Terjadinya bahasa tidak baku dalam bahasa Indonesia ditinjau dari Pengunaan kata dan penulisan kata atau kebiasaan yang digunakan untuk menghasilkan bahasa.

D.    Manfaat
Manfaat dibuatnya makalah ini adalah, sebagai berikut:
1.      Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan Bahasa Baku.
2.      Mahasiswa mengetahui cirri-ciri dari bahasa baku dalam Bahasa Indonesia.
3.      Mahasiswa mengetahui sebab-sebab terjadinya bahasa baku.
4.      Mahasiswa Mengetahui Jenis-Jenis ketidakbakuan dalam Bahasa Indonesia.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Kata Baku
Bahasa baku ialah satu jenis bahasa yang menggambarkan keseragaman dalam bentuk dan fungsi bahasa, menurut ahli linguistik Einar Haugen. Ia dikatakan sebagai “loghat yang paling betul” bagi sesuatu bahasa
Keseragaman dalam bentuk berarti bahwa bahasa baku sudah dikodifikasikan, baik dari segi ejaan, peristilahan, maupun tatabahasa, walaupun kodifikasi bahasa itu tidaklah semestinya merupakan penyeragaman kode yang mutlak. Misalnya, dalam tatabahasa sudah ada rumus morfologi Melayu yang menetapkan bahwa konsonan k pada sesuatu kata dasar digugurkan apabila diberi awalan men; umpamanya kasih menjadi mengasihi, dan ketat  menjadi mengetatkan. Tetapi dengan masuknya kata asing yang mengandungi gugus konsonan pada awal kata, rumus tersebut diberi rumus tambahan, aitu untuk kes tersebut, konsonan k tidak digugurkan apabila diberi awalan meNG; umpamanya kritik menjadi mengkritik.
Istilah lain yang digunakan selain ragam bahasa baku adalah ragam bahasa standar, semi standar dan nonstandar. a. ragam standar, b. c. ragam nonstandar, ragam semi standar. Bahasa ragam standar memiliki sifat kemantapan berupa kaidah dan aturan tetap. Akan tetapi, kemantapan itu tidak bersifat kaku. Ragam standar tetap luwes sehingga memungkinkan perubahan di bidang kosakata, peristilahan, serta mengizinkan perkembangan berbagai jenis laras yang diperlukan dalam kehidupan modern


B.     Ciri – ciri Bahasa Indonesia Baku
Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku sebagai berikut:
1. Pelafalan sebagai bahagian fonologi bahasa Indonesia baku adalahpelafalan yang relatif bebas dari atau sedikit diwarnai bahasa daerah atau dialek.
Misalnya, kata / keterampilan / diucapkan / ketrampilan / bukan / ketrampilan
2. Bentuk kata yang berawalan me- dan ber- dan lain-lain sebagai bahagian  morfologi bahasa Indonesia baku ditulis atau diucapkan secara jelas dan tetap di dalam kata. Misalnya:
·         Banjir menyerang kampung yang banyak penduduknya itu.
·         Kuliah sudah berjalan dengan baik.
3.  Konjungsi sebagai bahagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat. Misalnya:
·           Sampai dengan hari ini ia tidak percaya kepada siapa pun, karena semua diangapnya penipu.
4.   Partikel -kah, -lah dan -pun sebagai bahagian morfologi bahasa Indonesia baku ditulis secara jelas dan tetap di dalam kalimat. Misalnya:
·      Bacalah buku itu sampai selesai!
·      Bagaimanakah cara kita memperbaiki kesalahan diri?
·      Bagaimanapun kita harus menerima perubahan ini dengan lapang dada.
  1.  Preposisi atau kata dengan sebagai bahagian morfologi bahasa Indonesia baku  dituliskan secara jelas dan tetap dalam kalimat. Misalnya:
·      Saya bertemu dengan adiknya kemarin.
·      Ia benci sekali kepada orang itu.
C.    Sebab-sebab terjadinya bahasa tidak baku
1.         Pelesapan Imbuhan
(prefiks dan sufiks)
Polisi terus usut kematian Munir.
Presiden resmikan 8 pabrik gula.

Polisi terus mengusut kematian Munir.
Presiden meresmikan delapan pabrik gula.
Engkau harus hati-hati jika bertemu dengan dia.
Saya ingin langganan majalah itu.
Dua orang pemulung hukum dua tahun.

Engkau harus berhati-hati jika bertemu dengan dia.
Saya ingin berlangganan majalah itu.
Dua orang pemulung dihukum dua tahun.
Kita menanti hubungan dengan Washington.
Yang paling saya suka ialah berlari.

2.         Pemborosan Penggunaan Kata
Kemarin dia bertanding di Beijing di mana ia kalah angka.
Tempat di mana ditemukannya benda itu telah dicatat.

Kemarin, dia bertanding di Beijing dan kalah.
Tempat ditemukannya benda itu telah dicatat.
Tujuan daripada pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan.
Semua peserta daripada pertemuan itu sudah hadir.

Tujuan pertemuan itu adalah pembuatan kesepakatan.
Semua peserta pertemuan itu sudah hadir.

Di dalam rapat kemarin memutuskan besarnya sumbangan pendidikan.
Dalam masyarakat Jawa pun mengenal tradisi semacam itu.

Rapat kemarin memutuskan besarnya sumbangan pendidikan.
Masyarakat Jawa pun mengenal tradisi semacam itu.
Kepada Ibu Bupati dimohon berkenan menyerahkan hadiah.
Kepada hadirin dimohon berdiri.

Ibu Bupati dimohon berkenan menyerahkan hadiah.
Hadirin dimohon berdiri.
Dari hasil otopsi menunjukkan bahwa korban meninggal secara tidak wajar.
Hasil otopsi menunjukkan bahwa korban meninggal secara tidak wajar.

3.         Ketidaktepatan Pemilihan Kata
a.       Penggunaan Kata Bahasa Jawa
b.       Penggunaan Kata yang Termasuk Ragam Tidak Baku
c.        Kesalahan Pembentukan Kata
d.      . Ketidaktepatan Penggunaan Kata ‘di mana’
e.        Ketidaktepatan Penggunaan Imbuhan meN-i
f.        Ketidaktepatan Penggunaan Bentuk –nya
g.       Ketidaktepatan Penggunaan Kata-kata Tertentu
h.       Di muara sungai itulah terdapat sebuah keraton lelembut
i.         Ia sedang membikin rak buku.
j.        Buku itu diberi ke saya.
k.      Kantor di mana ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
l.        Presiden menghadiahi bintang jasa kepadanya
m.    Atas bantuannya kami ucapkan terima kasih.
n.      Untuk menyingkat waktu, acara segera dimulai.
o.      Di muara sungai itulah terdapat sebuah keraton roh halus.
p.      Ia sedang membuat rak buku.
q.      Buku itu diberikan kepada saya.
r.       Kantor tempat ia bekerja tidak jauh dari rumahnya.
s.       Presiden menghadiahkan bintang jasa kepadanya
t.        Atas bantuan Saudara, kami ucapkan terima kasih.
u.      Untuk mengefektifkan waktu, acara segera dimulai.
4.         Penggunaan Konjunsi Ganda
a. karena, maka
b. meskipun, tetapi
c. walaupun, namun
d. setelah, maka
e. meskipun, namun
Karena nilainya kurang dari batas minimal, maka ia tak dapat diterima sebagai siswa.
Karena sakit, maka ia tidak masuk sekolah.

Meskipun kita tidak berperang, tetapi kita harus waspada.
Meskipun turun hujan, tetapi ia pergi juga ke sekolah.
Meskipun tidak berperang, kita harus waspada.
Meskipun turun hujan, ia pergi juga ke sekolah.
Walaupun keringat membasahi seluruh badan, namun ia tetap bekerja.
Walaupun mereka maju bersama-sama, namun mereka belum dapat mengalahkannya.

Walaupun keringat membasahi seluruh badan, ia tetap bekerja.
Walaupun maju bersama-sama, mereka belum dapat mengalahkannya.

Meskipun negara Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945, namun masih banyak warganya yang belum berpendidikan.
5.         Kerancuan Bentuk
a.       Rancu dalam Hal Bentuk Kata
Hal itu belum dipelajarkan kepada kami.
Hotel itu dipertinggikan.
Hal itu belum diajarkan kepada kami.
Hotel itu dipertinggi.
b. Rancu dalam Hal Kelompok Kata
Mereka saling pandang-memandang.
Dia dilarang tidak boleh merokok.
Mereka saling memandang.
Dia dilarang merokok.
6.          Kesalahan Ejaan
a.       Penggunaan Tanda Koma Yang Salah
Ayah mengatakan, bahwa adik sakit.
Saya tidak datang, jika turun hujan.
b.  Pelesapan Tanda Koma
Jadi definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
Di samping itu kita tidak beruntung.

c.  Kesalahan Penulisan Sapaan
Siapa nama saudara?
Silakan makan, dik!
- Ayah mengatakan bahwa adik sakit.
- Saya tidak datang jika turun hujan.

Jadi, definisi demokrasi adalah sebagai berikut.
Di samping itu, kita tidak beruntung.
Siapa nama Saudara?
Silakan makan, Dik!

7.         Pelesapan Salah Satu Fungsi Kalimat
a.       Pelesapan subjek pada induk kalimat.
b.      Pelesapan subjek anak kalimat.
c.       Pelesapan predikat.
Ketika diangkat menjadi ketua organisasi, tidak memperlihatkan kelebihannya.
Ketika diangkat menjadi ketua organisasi, dia tidak memperlihatkan kelebihannya.
Jika Anda tidak piket, akan dikenakan denda.
Jika tidak piket, Anda akan dikenakan denda.
Sebelum dibicarakan dengan pimpinan, bagian personalia sudah memasalahkan masalah itu.
Sebelum pimpinan membicarakan masalah itu, bagian personalia sudah memasalahkannya.
Ia sedang ke luar kota.
Ia sedang pergi ke luar kota.
8.         Kesalahan Struktur Kalimat
Surat anda saya sudah baca.
Dia punya HP sudah dijual.
Kalimat itu pembaca tidak tahu artinya.
Surat Anda sudah saya baca.
HP-nya sudah dijual.
Pembaca tidak dapat mengetahui arti kalimatnya
D.    Jenis Ketidakbakuan Bahasa Indonesia
Kaidah tata bahasa normatif selalu digunakan secara ekspilisit dan konsisten.
1.      Pemakaian awalan me- dan awalan ber- secara ekpilisit dan konsisten.
Misalnya:
Bahasa baku
●  Gubernur meninjau daerah kebakaran.
●  Pintu pelintasan kereta itu kerja secara otomatis.
2.      Pemakaian kata penghubung bahwa dan karena dalam kalimat majemuk secara ekspilisit. Misalnya:
Bahasa Baku
●  Ia tidak tahu bahwa anaknya sering bolos.
●  Ibu guru marah kepada Sudin, ia sering bolos.
3.      Pemakaian pola frase untuk peredikat: aspek+pelaku+kata kerja secara
konsisten. Misalnya:
Bahasa Baku
●  Surat anda sudah saya terima.
●  Acara berikutnya akan kami putarkan lagu-lagu perjuangan.
Bahasa Tidak Baku
●  Surat anda saya sudah terima.
●  Acara berikutnya kami akan putarkan lagu-lagu perjuangan.
4.    Pemakaian konstruksi sintensis. Misalnya:
Bahasa Baku                        Bahasa Tidak Baku
●anaknya                             ● dia punya anak
● membersihkan                  ● bikin bersih
● memberitahukan               ● kasih tahu
● mereka                              ● dia orang
5.    Menghindari pemakaian unsur gramatikal dialek regional atau unsure gramatikal bahasa daerah. Misalnya:
Bahasa Baku
● Dia mengontrak rumah di Kebayoran lama
● Mobil paman saya baru
Bahasa Tidak Baku
● Paman saya mobilnya baru.
a. Penggunaan Kata-Kata Baku
Masuknya kata-kata yang digunakan adalah kata-kata umum yang sudah
lazim digunakan atau yang perekuensi penggunaanya cukup tinggi. Kata-kata yang belum lazim atau masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak digunakan, kecuali dengan pertimbangan-pertimbangan khusus.
Misalnya:
Bahasa Baku                 Bahasa Tidak Baku
● cantik sekali              ● cantik banget
● lurus saja                   ● lempeng saja
● masih kacau               ● masih sembraut
● uang                          ● duit
b. Penggunaan Lafal Baku Dalam Ragam Lisan
Hingga saat ini lafal yang benar atau baku dalam bahasa Indonesia belum
pernah ditetapkan. Tetapi ada pendapat umum bahwa lafal baku dalam bahasa
Indonesia adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau lafal daerah.
Misalnya:
Bahasa Baku                 Bahasa Tidak Baku
● atap                           ● atep
● menggunakan            ● menggaken
● pendidikan                ● pendidi’an

BAB III
Kesimpulan
Bahasa Indonesia baku adalah bahasa yang sesuai dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) dan mempunyai fungsi sebagai bahasa Tosnel, digunakan pada acara-acara resmi, siaran-siaran Tesrol, saat berkomunikasi dengan orang yang dihargai, dan lain-lain.
Singkatnya Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku adalah sebagai berikut:
·         Memakai ucapan baku (pada bahasa lisan yaitu ucapan yang tidak terpengaruh oleh ucapan bahasa daerah dan dialeg-dialeg yang ada)
·         Memakai EYD (16 Agustus 1972)
·         Memakai peristilaan resmi yaitu pedoman umum pembentukan istilah
·         Menghindari pemakaian unsur-unsur yang terpengaruh oleh bahasa-bahasa dialeg baik leksikal maupun gramatikal. Yang dimaksud leksikal ialah unsur bahasa yang berupa kata, sedangkan gramatikal ialah unsur yang bersifat ketata bahasaan.

Sebagaimana diketetahui dari pembahasan materi diatas ditemukan Ada 8 penyebab ketidakbakuan kalimat dalam Bahasa Indonesia yauit sebagai berikut:
1. Pelesapan imbuhan.
2. Pemborosan penggunaan kata.
3. Ketidaktepatan pemilihan kata.
4. Penggunaan konjungsi ganda.
5. Kerancuan bentuk.
6. Kesalahan ejaan.
7. Pelesapan salah satu fungsi kalimat.
8. Kesalahan struktur kalimat.






DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zaenal. 1988. Cermat Berbahasa Indonesia. Jakarta: PT. Mebiyatama Sarana Perkasa.
Tasai, S. Amran. 1948. Pelajaran Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka.
Zodarmanto, M. 1977. Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka. Makalah Ragam Bahasa Indonesia Baku Sesuai EYD
Kridalaksana, Harimurti. 1975.  Tata Cara Standardisasi dan Pengembangan Bahasa Nasional  dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. No. 3 pp 7–14.
Moeliono, Anton M. 1975. Ciri-Ciri Bahasa Indonesia yang Baku dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. No. 3. pp. 2–6.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar